THE PANDEMIC

THE PANDEMIC

Katanya Bandung adalah kota dengan sejuta cerita. Setiap sudut kota, memiliki keindahan tersendiri. Namun, semenjak pandemi, bagi Haura Bandung tidak lagi sama.

Haura lelah dengan semuanya. Terkadang yang ingin Ia lakukan hanya menyerah pada situasi. Hampir 2 tahun virus mewabah. Tidak berniat rehat sejenak menyakiti, apalagi berniat pergi.

Beberapa minggu ini Haura bahkan tidak bisa pergi untuk sekedar jalan-jalan, mengingat Pandemi covid yang tidak kunjung usai. Serta PPKM atau Pemberlakuan Kegiatan masyarakat yang tiada akhir. Terus di perpanjang, membuat rasa suntuk nya kembali menumpuk.

Terkadang Haura bertanya-tanya , apa gunanya menaati semua larangan dan diam di rumah?

Buang-buang waktu.

Di tambah vaksin yang terus menerus di galakkan. Sebenarnya apa makna dari semua ini?

Haura benar-benar merasa dirinya terpuruk. Tugas menumpuk, di tambah zoom dan google meet yang di laksanakan sang dosen kurang Ia pahami.

Kampus Online benar-benar menyebalkan untuk Haura.

Haura benci dengan situasi Pandemi.

Di saat kantuk nya melanda akibat begadang mengerjakan skripsi, pagi ini sang dosen memberinya tugas makalah. Setelah membuat surat izin dari desa, Haura mengunjungi musium terdekat, baru di buka, katanya. Gadis itu mengamati setiap lukisan, indah.

Tapi setelah menyusuri lorong demi lorong dengan ratusan lukisan di tiap dindingnya, ada satu lukisan menarik perhatiannya. Lukisan karya Aruna J— ” The Pandemic.”

“Uhm— kenapa ini?”

Haura menyentuh lukisan itu. Kemudian mengamatinya dengan seksama. Tiba-tiba terkejut saat sebuah suara menginterupsi nya, membuat dirinya spontan mencari sumber- Nya.

“Maaf, tadi lagi bebersih di belakang. Mbak nya, lagi liat-liat?”

Haura mengangguk saat melihat seorang laki-laki dengan baju tugas dan emblem bordir musium.

Dia tour guide? Tapi, wajahnya sangat pucat. Tidak manusiawi.

Haura berucap dalam hati, diam-diam, dia sedikit takut. Namun saat ini, di banding rasa takut dan keinginannya untuk kabur, rasa penasaran Haura lebih tinggi

“Kalau boleh tau, ini tentang apa ya?” tanya Haura.

“Kisah Wabah di tahun 1902. Mau coba melirik?”

“Wabah? Ck. Gue ngga percaya begituan.”

“Kalau gitu kamu ikut sama saya, ya?”

“Kemana?”

“Ke masa lalu— di mana wabah menyerang, dan banyak orang pembangkang berakhir dengan penyesalan.”

Semuanya sedikit tidak masuk akal. Pasalnya, seorang laki-laki dengan seragam pegawai musium, yang memperkenalkan namanya sebagai Indra itu mengaku seorang time traveler. Iya, penjelajah waktu.

Haura enggan percaya soal mitos. Apalagi, penjelajah waktu. waktu itu fana, bukan sesuatu yang bisa di tembus dan memberi kebebasan objek untuk meloncati setiap masa ke masa.

Tapi, sejenak, Haura merasa akal sehat dan fakta tidak lagi berguna. Karena saat Indra menggenggam tangan mungil Haura, tidak sampai satu menit, keduanya tiba di tempat antah berantah.

Sebuah kota yang makmur, subur, dan menakjubkan serta ramai.

“G—gue, dimana?”

“kita berada di tahun 1902.”

Indra tersenyum, kemudian membawa Haura berjalan. Selanjutnya, jari telunjuk indra terangkat, menunjuk seseorang di arah jam 12.

“Kamu liat orang itu— dia, adalah seseorang yang membawa virus ke negeri ini. Perkara tidak menaati larangan untuk berpergian.”

“Lalu laki-laki itu, dia—hm, sama. di saat sang Raja menutup akses kota, dia menyelinap lewat jalan kecil bawah tanah, mengunjungi kota sebrang untuk mendapat sedikit kesenangan.”

Indra berucap lagi, matanya terus mengedar, mencari tiap-tiap individu yang menurut -Nya adalah akar dari permasalahan.

“Kemarin, tabib mengumumkan telah membuat obat yang mujarab,” ucapnya lagi.

“— sayang sekali, dia… laki-laki dengan jubah kuning itu, menyebar berita bohong soal obat nya.”

“Hoax maksud lo?”

“iya.” Indra mengangguk. “sehingga seluruh rakyat enggan percaya, dan hanya sebagian kecil yang tetap datang pada pembagian obat hari ini.”

“Terus, gimana?”

Indra kemudian menautkan tangannya lagi dengan milik Haura. Kemudian berpindah 5 bulan dari waktu sebelumnya.

Haura terkejut. Lahan yang sebelumnya indah dan di penuhi bunga, kini berubah menjadi tanah kosong yang di isi kuburan.

Suasana kota berubah,

Kosong. Hampa dan—sunyi.

“5 bulan, wabah semakin menyebar ke seluruh penjuru negeri, bahkan dunia. beberapa bertahan karena pencegahan dari obat sang tabib. mungkin memang benar mereka tidak seluruh nya selamat, mengingat betapa ganas nya virus di masa ini,”

“— tapi mereka yang mencegah, mereka yang taat, mereka yang menuruti perintah raja, memiliki kesempatan untuk tetap bertahan.”

Haura tersentak. lantas teringat dirinya yang menghindari program vaksinasi akhir-akhir ini karena kabar burung selalu datang kepadanya, soal permasalahan keamanan atau efek setelah penggunaan.

“Mereka yang enggan percaya dan berpegang pada prinsip nya, berakhir pilu. Egoisme dan Individualisme menggerogoti. memberi luka tiada akhir, berawal dari senyum kebahagiaan, menjadi nama di atas batu nisan.”

“— Lantas, sekarang, bagaimana dengan kamu, Haura? Masih ‘kah menganggap semua ini hanya candaan?”

Kalimat terakhir yang di ucap Indra, menusuk jiwa raganya. membuat Haura terkejut setengah mati saat seseorang menepuk bahunya— sang penjaga musium, asli.

“AAAA!”

“Mbak? Eh, kenapa?”

“N-nggak! Saya mau pulang, Mas!”

Haura berlari, menuju rumah, tempat teraman ya berlindung saat ini. Gadis itu mencari surat panggilan vaksin. memanggil nomor telepon sang tenaga kesehatan untuk menanyakan jadwal vaksinasi susulan.

Haura tau, semuanya ini bukan lagi candaan. Pandemi memang nyata, merenggut jutaan nyawa, memberi rasa sedih pada setiap jiwa raga yang kehilangan keluarga tercinta.

Lantas, kenapa kita masih mengabaikan semuanya? menganggap biasa saja, tanpa mengerti betapa berbahayanya?

Hari ini, esok, dan seterusnya, mari bersama, melawan covid, agar kita bisa kembali bertemu dan beraktivitas seperti semula.

Mari bangkit dari keterpurukannya, tidak peduli ujian apa yang datang, tidak peduli apapun tantangan yang kita hadapi, kita semua harus berkerja sama dan tetap produktif.

Demi Indonesia yang kembali nyaman di kunjungi setiap sudut keindahannya, demi ibu Pertiwi yang nanti menjadi tempat teraman kita semua lagi.

Cerpen Oleh : Nayla Hilmyna

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *