Tapak Berdarah

Tapak Berdarah

Dunia semakin tua. Tatanan kehidupan telah banyak berubah. Manusia bisa menjalani kehidupan yang berkembang semakin baik. Namun, bisa jadi, beberapa aspek yang menjadi bagian hidup manusia di zaman modern ini mengalami kemunduran atau mungkin tidak bergerak maju—stuck di masa lalu. Salah satu hal yang tidak kupandang secara positif mengenai perkembangan zaman adalah cara pandang mayoritas manusia terhadap keberhasilan dan penghargaan. Di zaman teknologi yang semakin canggih ini, tingkat keberhasilan seseorang diukur oleh kepemilikan harta dan strata sosial, bukan diukur dari sebuah usaha dan pengorbanan. Mereka yang memiliki uang, lebih dihargai dibandingkan mereka yang memiliki usaha dan pengorbanan tinggi. Seakan uang memang mampu membeli segala hal yang ada di dunia ini.

Aku hanya seorang anak jalanan. Tidak memiliki harta, terlebih memiliki strata sosial yang cukup untuk sedikit dihargai. Aku bahkan tidak bisa bersekolah, tentu alasan utamanya adalah biaya. Namun, meski begitu, aku sedikit pun tidak pernah menyerah terhadap masa depan. Boleh saja hari ini aku buta huruf, tapi nanti aku akan menjadi ahli huruf. Entah dorongan dari mana aku menjadi begitu tertarik untuk belajar membaca. Aku akan diam-diam datang ke sekolah dan menyimak apa yang mereka pelajari di sana.

Tanpa bimbingan, tapi penuh perjuangan. Perlahan, satu huruf, dua huruf hingga satu kata, mampu aku baca. Prosesnya memang tidak secepat mereka yang bersekolah. Namun, hasil yang kudapat membuktikan bahwa kita bisa dengan usaha. Keberhasilan bukan milik mereka yang mempunyai harta berlimpah dan strata sosial yang tinggi saja. Rakyat kecil seperti kami—anak jalanan—juga bisa menjadi pemilik keberhasilan. Berharap dengan kemampuan membaca yang kupunya, aku bisa membawa anak jalanan lainnya menuju keberhasilan.

Hari ini, saat aku dan anak jalanan lainnya mencari barang ber-title sampah—yang bisa diuangkan—di sejumlah tumpukan sampah di pinggir jalan, salah satu dari kami menemukan sebuah buku. “Kak, lihat!” teriak anak itu sambil mengacungkan sebuah buku yang telah koyak dan kotor. “Aku menemukan sebuah buku ditumpukan sampah, di sana.” Ia menunjuk tempat sampah yang sempat diubrak-abriknya. “Memang hanya beberapa lembar saja yang utuh, tapi tidak apa-apa, kan, kak? Nanti kita bisa baca bersama-sama, kan?”

Seorang gadis kecil berpakaian kucel itu menenteng sebuah buku yang kumal. Ia memamerkan senyum lebar padaku. Meminta persetujuan untuk membaca buku tak utuh itu bersama-sama. Ah, lebih tepatnya mungkin sedang memintaku untuk mengajari ia dan yang lainnya membaca.

Aku menatap nanar buku yang dipamerkannya. Hanya sebuah buku bekas, tapi mampu membuat senyum mereka merekah. Anggukan antusias kulayangkan sebagai apresiasi atas semangat mereka untuk belajar. “Tentu saja. Kita bisa membacanya bersama-sama secara berulang sampai lancar.”

Melihat betapa antusiasnya adik-adik seperjuanganku saat menemukan buku yang sudah sobek dan kotor, bahkan mungkin tidak lagi layak dibaca, perasaanku sungguh tak menentu. Kulihat senyum lebar yang terbit di wajah mereka. Mencari selembar kertas utuh meski kotor untuk dibaca bersama-sama. Tertawa bersama ketika salah satu dari mereka keliru membaca kalimat-kalimat panjang nan asing. Semua itu membuatku merasa teriris, kenapa hanya orang-orang kecil seperti kami yang harus berjuang mati-matian untuk mendapatkan sesuatu.

Berpikir demikian malah memacu diriku yang lain untuk bertindak kejahatan. Aku nekat mengambil beberapa buku dagangan milik seorang pria gendut di sebuah tempat pedagang kaki lima. Jujur, aku tidak berniat merugikan orang lain karena nyatanya aku hanya mengambil sebanyak tiga buah buku dari berkodi-kodi buku yang dijualnya. Aku hanya ingin memberi sedikit saja keadilan bagi kami.

Setelah berhasil mengambil tiga buah buku, aku berlari, menjejakkan kaki telanjang di panasnya aspal kota metropolitan. Bahuku beberapa kali tak sengaja bersinggungan dengan tubuh orang lain, terhuyung hampir terantuk pada gerobak dagangan. Aku mencoba tak peduli saat orang yang tak sengaja tertabrak olehku meluncurkan makian. Nyatanya, teriakan keras serta derap langkah yang menggema di belakang sana lebih membuatku berketar-ketar ketakutan.

“Pencuri!”

“Sialan, bocah itu mencuri buku daganganku!”

Aku memacu langkah kaki dengan cepat, mencoba menghindari kejaran. Kaki telanjangku terasa terbakar akibat terus menggesek aspal yang mengepul panas. Peluh, lelah, dan rasa sesak di dada kucoba untuk tak menghiraukannya. Beberapa buku tebal semakin kuat dan erat kudekap, takut-takut jatuh karena tempo lari yang tak beraturan.

Rasa panas serta perih di telapak kaki, membuatku memilih membelokkan langkah ke arah gang yang sangat sempit. Berharap kejaran orang-orang itu terhenti sampai di sini. Ternyata, hal itu bukan suatu pilihan yang baik. Aku tak sengaja menginjak genangan air, sisa hujan semalam. Rasa sejuk sekaligus perih menyapa telapak kaki. Sial, karenanya langkahku sedikit terhalang dan terpincang-pincang. Belum lagi setelah itu aku melewati jalan berkerikil. Bukankah kakiku akan semakin terluka? Tentu saja. Aku bahkan dapat melihat darah yang menetes di setiap jalan yang kulewati.

Aku bergerak gesit. Melompati sebuah pagar besi yang telah rapuh ditelan karat. Meski begitu, masih bisa kurasakan betapa tajamnya mata besi yang tak sengaja merobek salah satu telapak kaki. Akibatnya, aku kehilangan separuh penopang untuk berdiri. Menyuruk di antara lebatnya semak belukar dan pagar besi yang membuatku semakin ringkih. Namun, masih mencoba menghindar dan bersembunyi dari kejaran.

Derap langkah masih terdengar jelas, melesak ke dalam telinga. Posisiku semakin terasa terancam tatkala terdengar suara berat yang menggema di tempat persembunyianku, “Bocah itu pasti bersembunyi di semak-semak, di balik pagar besi ini. Lihat, ada tapak dengan bercak darah!”

Meringis pedih dengan mata terpejam dan tangan yang memeluk erat tubuh sendiri. Pagar besi itu roboh, ditendang tanpa rasa ampun oleh pria berperawakan gendut—pemilik toko buku yang kucuri sebagian dagangannya. Menghantam keras tubuhku, terasa seperti sengatan listrik yang menjalar di setiap sendi dan fungsi tubuh. Meski tak ada bagian tubuh yang tergores dan mengeluarkan darah, tapi bisa kurasakan getar-getar ganasnya pagar besi yang menimpa.

Di tengah kegetiran itu, seseorang menarik dan menyeret paksa tubuhku. Ia mencoba merebut beberapa buku yang kugenggam erat. “Kembalikan buku daganganku, Bodoh! Masih kecil sudah pandai mencuri, ya? Tinggal di jalanan membuatmu merasa hebat, begitu? Sampai berani mencuri? Ayo, kembalikan buku daganganku!”

Aku menepis kasar tangannya. Tidak adil. Sudah terluka separah ini, tapi apa yang akan aku dapat jika pada akhirnya kembali menyerahkan barang yang telah kupertahankan mati-matian. Dalam kamusku sudah tercatat, ‘Harus ada balasan yang setimpal atas perjuangan yang telah dilakukan.’

“Aku tidak akan mengembalikannya. Tidak akan pernah!” tegasku sambil menatapnya nyalang.

“Hei, Bocah, itu barang milikku, bukan milikmu, sudah seharusnya kau mengembalikannya!” Ia balas menatapku tak kalah nyalangnya.

“Tidak. Barang ini sudah berada di tanganku, itu artinya barang ini juga sudah menjadi hak milikku.”

“Kurang ajar!” makinya sambil menarik tanganku paksa. “Sudah mencuri, bahkan sekarang kau berani berkata seperti itu. Aku akan menuntutmu dengan jalur hukum!”

Seseorang dengan wajah seram berbisik pada pria gendut itu. Ia kemudian tertawa dan melirikku, “Anak kecil, kamu harus kubuat jera! Aku akan membantu agar kau tidak jadi pendosa.” Telapak kaki yang masih meneteskan darah, sekujur tubuh yang masih meremang, nyatanya tidak membuat salah satu dari mereka iba, sebaliknya mereka dengan kejam menyeretku ke sebuah bangunan tua yang terbengkalai. Tempat bernuansa mengerikan, di mana banyak tetesan darah yang mengering dan berbau anyir. Hal yang saat itu terbersit di kepalaku, dia—orang yang kucuri bukunya—bukanlah sebatas pedagang biasa.

Aku bergetar, sekujur tubuh mengeluarkan keringat dingin. Pria gendut serta beberapa orang lainnya menarikku ke arah meja yang penuh dengan darah. Meletakkan paksa tangan kiriku tepat di bawah pisau yang sepertinya sudah biasa mereka gunakan. “Tidak! Jangan, jangan potong jariku. Aku hanya mengambil buku untuk dibaca oleh adik-adikku, aku ingin membuat mereka senang. Aku tidak berniat jahat. Jangan potong jariku!” Aku berontak dan berteriak histeris saat melihat pisau tajam yang mengkilap, siap melahap jari-jariku.

“Kau mencuri! Apapun alasannya, kau harus tetap dihukum. Tindakanmu sudah merugikan orang lain, maka kamu pantas menerima hukuman potong jari!”

Setelah mengatakan hal itu, diturunkannya pisau oleh pria gendut dengan keras, merobek kulit dan memotong tulang ke lima jariku. Percikan darah segar menyembur ke mana-mana. Aku memelototkan mata. Napasku memburu tak karuan. Air mata membanjiri wajah kucelku. Teriakan histeris dan tercekat saat melihat jari-jariku terlepas dari tempat yang seharusnya, “Kejam! Kejam! Biadab!”

Menarik tanganku yang bersimbah darah. Menatap getir tangan yang kini kehilangan jari-jarinya. Aku rapuh, rasa sakitnya sungguh tak tertahankan. Tubuhku luruh dalam kubangan darah. “Kalian bilang kalau ini adalah hukuman untuk menegakkan keadilan? Di mana? Di mana letak keadilannya? Saat kalian menjatuhkan hukuman, tapi tidak mendengarkan alasan dari pihak yang dihukum terlebih dahulu, apa yang harus dikatakan adil?” Aku menghela nafas, lalu membalas tatapan datar mereka. “Kalian buta terhadap keadilan, tapi berani menjatuhkan hukuman. Dasar biadab!”

“Aku hanya mengambil apa yang seharusnya menjadi milik kami, orang-orang tak punya. Aku tidak berniat jahat sama sekali, aku juga tidak berniat merugikan orang lain. Sayang sekali, karena keserakahan kalian, orang-orang yang punya, menjadikan kami mengambil hak kami secara paksa.” Aku berdiri, membalikkan badan dan menyeret tubuhku pergi. Dengan membawa luka serta derita, aku merasa kecewa. Nyatanya, dunia tak pernah benar-benar adil pada orang-orang miskin seperti kami.

Aku melangkah pergi dari tempat hukuman. Meninggalkan tapak yang berdarah, biar menjadi saksi bisu jika pernah ada pertumpahan darah atas keadilan yang salah. Hatiku menjerit di setiap jalan yang terus kulewati, ada belati yang menusuk di ulu hati, merobek dan hendak menghancurkannya. “Aku butuh keadilan. Di mana keadilan itu, Tuhan? Tidak berhakkah aku menerima keadilan? Apa keadilan hanya untuk mereka yang memiliki harta?”

Kembali ke tempat asal, di bawah kolong jembatan dengan kardus-kardus sebagai dinding rumah. Meski tak layak disebut rumah, tapi tempat itulah satu-satunya yang mampu memberikan kehangatan sebuah keluarga. Saat kakiku menapak pada sisi jembatan, saat itu pula anak-anak jalanan lainnya menyambutku dengan hangat.

Mereka tersenyum lebar tatkala aku mengacungkan beberapa buku tebal di tanganku—buku yang kucuri dari pria gendut yang juga memotong kelima jariku. “Lihat! Kakak membawakan buku yang bagus untuk kalian.” Aku memaksakan senyum lebar, meski kenyataannya aku ingin menangis keras detik itu juga.

“Hore, Kakak bawa buku!” seru mereka serempak.

Aku menyodorkan buku di tanganku. “Wah, bukunya tebal sekali, Kak. Kita bisa membacanya sampai berbulan-bulan,” ucap salah satu dari mereka sambil menyambut sodoranku, ia membolak-balikkan buku di tangannya, terkagum.

Syukurlah. Rasanya aku lega setelah melihat mereka bahagia karena mendapatkan buku baru. Tak apalah jariku hilang, asal jangan senyum dan semangat mereka yang hilang. “Ayo, siapa yang mau baca bukunya sekarang?” tanyaku yang dibalas dengan acungan serta seruan serempak dari mereka.

Aku mencoba ikhlas saja atas apa yang telah menimpaku. Toh, pengorbananku telah terbayarkan oleh senyum lebar anak-anak jalanan lainnya. Akan tetapi, masalahnya ternyata tidak berhenti sampai di sini. Keesokan harinya—saat aku berjibaku mencari pundi-pundi rupiah di jalanan—aku dikejutkan dengan penayangan sebuah berita di layar televisi—yang sengaja dipajang di sudut rambu-rambu lalu lintas. Berita itu menayangkan kejadian di saat tubuhku luruh ke lantai dan mengkritik mereka tentang keadilan.

Setelah melihat tayangan itu, aku menjadi tidak fokus untuk mencari uang di jalanan, ada banyak pertanyaan yang bersarang di dalam kepala. Aku memilih pulang ke kolong jembatan. Di sanalah kejutan kedua terjadi. Banyak orang dengan pakaian rapi bercengkerama di sana. Sekilas, aku bisa melihat tawa bahagia dari anak-anak jalanan. “Apa yang terjadi?” batinku bertanya.

Seorang perempuan—yang kutebak usianya seperempat abad—menghampiriku yang bergeming menatap bingung apa yang sedang terjadi di sini. Ia tersenyum, menyejajarkan tubuhnya dengan tubuhku. “Hai, Langit,” sapanya menyebut namaku. Aku semakin mengerutkan alis, kenapa dia bisa tahu namaku?

Ia tertawa lebar. “Astaga. Hei, kenapa mukamu sedatar itu, Langit?”

Aku tak menjawab. Namun, ia mengusap kepalaku dengan lembut, lantas menarik tanganku yang terbalut kain kucel. Mimik wajah yang tadinya semringah, kini berganti dengan mimik iba. “Apa sakit, Dek? Biar Kakak dan teman-teman yang lainnya bantu untuk mengobatinya, ya?”

“Kakak siapa?” tanyaku.

Bukannya menjawab, ia malah menggiringku mendekati teman-temannya yang sedang bersenda gurau dengan anak jalanan lainnya. “Simpan dulu pertanyaanmu, nanti kakak jelaskan semuanya setelah tangan kamu diobati, ya.”

Aku manut saja, menyerahkan tanganku untuk diobati oleh kakak-kakak lainnya. Toh, mereka berniat baik, bisa kulihat dari mata mereka yang memancarkan perasaan tulus. Setelah tanganku selesai diobati, barulah aku bisa mendengar penjelasan dari mereka.

Kejutan besar. Mereka adalah kakak-kakak dari sebuah forum kemanusiaan yang tugasnya adalah memberikan kesejahteraan dan keadilan bagi rakyat-rakyat kecil. Mereka mengatakan jika merekalah alasan di balik terekamnya tragedi berdarah itu dan mereka pula yang melaporkan kasus itu ke pihak berwajib. Orang-orang yang memberikan hukuman tanpa paham terhadap hukum itu akhirnya ditangkap oleh pihak kepolisian. Hukuman yang kuterima dianggap semena-mena dan tidak berdasar pada hukum yang berlaku di negara ini.

Mereka juga memberiku sebuah petuah atas tindakan pencurian yang aku lakukan, “Boleh saja jika kamu ingin memberikan kebahagiaan pada teman-temanmu, tapi perlu diingat, kebahagiaan yang didapatkan dengan cara yang salah tidak mendatangkan kebaikan. Jangan sampai kamu mengambil barang milik orang lain, sekecil apapun itu. Kamu tahu, kan, mencuri itu tindakan yang salah?”

Aku mengangguk, paham. “Lalu, bagaimana awalnya kakak-kakak tahu kalo di sana terjadi hal seperti itu? Tidak mungkin kan, kalo kalian tiba-tiba saja berada di sana.” Aku menyerukan keingintahuanku. Wajar saja, mereka tidak menceritakan secara runtut, hanya menceritakan yang penting saja padahal aku penasaran dengan awal mula aksi mereka.

“Tapak berdarah yang kau tinggalkan di jalan buntu, di sekitar pagar besi berkarat yang roboh.” Kakak perempuan itu menjeda kalimatnya sebentar. “Saat itu kami baru saja selesai memberikan beberapa bantuan pada rakyat kecil di sana. Kami iseng mencari jalan pulang yang berbeda, siapa tahu masih ada rakyat yang membutuhkan bantuan lagi. Tidak tahunya itu jalan buntu. Singkat cerita, kami menemukan tapak berdarah yang seperti diseret paksa. Kami penasaran, lalu memilih untuk menelusuri tapak berdarah itu. Kami sungguh mohon maaf, Dek. Kami tiba di saat tindakan biadab itu sudah terjadi.”

Aku tercengang mendengarnya. Tidak kusangka tapak berdarah yang kutinggalkan mampu membawa mereka datang dan mengulurkan tangan pada anak jalanan seperti kami. Membantu kami bangkit dan mendapatkan keadilan yang sebenar-benarnya.

Setelah pertemuanku dengan kakak-kakak dari forum kemanusian, hidupku dan anak jalanan lainnya berubah. Mereka membangun sebuah rumah dan juga memberikan pendidikan yang layak. Kini aku bisa menyimpulkan, walaupun di dunia ini terdapat 99,9% orang yang berhasil karena memiliki harta dan strata sosial, percaya saja jika masih ada orang kecil yang bisa berhasil meski persentasenya hanya 0,1%. Asalkan di dalam diri mereka ada sebuah tekad untuk berjuang dan berkorban.

Cerpen Oleh : Elsa Juliana

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *