Ruang tak terbatas

Ruang Tak Terbatas

Faaris, tak pernah menyangka akan menjadi siswa terbaik di tempat lesnya. Padahal, seringkali ia turun golongan karena ketidakmampuannya mengikuti pelajaran. Banyak juga temannya yang acuh tak acuh tentang keberadaanya. Keberadaan Faris dianggap layaknya patung pajangan, tak pernah dihiraukan.

Faaris siswa SMP yang memiliki tubuh gemuk, berkacamata dengan rahang bawah agak maju, menjadi bahan tertawaan siswa lainnya. Tetapi, ia hanya membalasnya dengan senyum sembari tertegun, menghela napas panjang. “Apa yang bisa ku perbuat selain mensyukuri apa yang telah Tuhan berikan”. Sejenak ia teringat dengan dua temannya Gibran dan Jerry. Mereka berteman sedari kecil, hanya bersama merekalah Faaris merasa nyaman. Tapi sayangnya, keadaan memaksa mereka berpisah. Virus Covid-19 mengajak yang dekat untuk menjauh, menahan rindu dan sebetulnya ia ingin menceritakan semua tekanan ini

Tak habis celaan dari teman sependidikan, ocehan mulai datang dari saudara bahkan orang tua. Lagi-lagi kedua orang tuanya memarahinya, karena Faaris mendapatkan nilai terendah di tempat lesnya. Tempat dimana ia dipandang harus sama dengan teman yang lainnya. Kepintaranya, kecakapannya dipaksa untuk sama bahkan harus lebih baik daripada temannya. Padahal ada satu yang terlupakan, bahwa setiap anak memiliki kemampuan yang berbeda-beda.

Dengan gigih ia memaksakan diri untuk terus belajar. Pikirnya hal itu bukan untuk dirinya, melainkan untuk kedua orang tuanya. Faaris hanya ingin membuktikan bahwa dirinya mampu menjadi yang terbaik seperti yang diinginkan orang tuanya. Jatuh bangun sampai jatuh sakit ia alami. Obsesinya terus memecut pikirannya untuk belajar dan belajar. Tapi, sontak hatinya sakit dan mulutnya terasa kaku, lututnya sangat lemas Ketika ia tahu hasil tesnya mengalami penurunan. Kegigihannya ternyata belum membuahkan hasil.

Tiba-tiba Gibran dan Jerry menghubunginya. Rona Bahagia pun tampak di wajah Faaris. Tentu ia langsung bercerita kepada teman-temanya. Kalimat yang diucapkan Gibran sungguh menyadarkannya. “Belajarlah dengan rasa ikhlas, bukan untuk orang lain. Tapi, untuk dirimu sendiri.” Dan Faaris ingat bahwa ia tak sendiri, Gibran pun mengalami hal serupa. Lain cerita dengan Jerry tekanan tak datang dari pelajaran melainkan siklus pertemanan, Jerry adalah seorang muslim yang menjalani jenjang SMP di sebuah sekolah Khatolik. “Tidak ada yang salah, bukan tentang semuanya. Kami hanya ingin bersama, tak menutup ruang dan batas pergaulan. Kami hanya ingin saling menguatkan. Bukankah itu lebih baik? “.

Bersama kedua kawan yang memiliki kisah nyaris serupa, Faaris melupakan sejenak beban pendidikannya. Ia menjalani hari-hari indah yang takkan terlupa, sebelum Virus melanda ia kerap berenang dan bermain hingga larut bersama kedua kawannya. Tanpa disadari prestasinya melambung dan ia meraih gelar unggulan di tempat Les nya, dan Faaris memberanikan diri bercerita pada kedua orang tuanya atas apa yang terjadi. Ibu nya menyesal dan tak lama Ayahnya mengganti tempat les nya, dan mengurangi jam belajar hingga Faaris memiliki lebih banyak waktu untuk dihabiskan bersama kawan.

Mari pahami perbedaan dan cintai keberagaman.

 

Artikel Feature Oleh : Abi Leo Gunawan

1 thought on “Ruang tak terbatas”

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *