MIMPI : Bukan Sebatas Harapan

MIMPI : Bukan Sebatas Harapan

Namaku Rasha, lebih tepatnya Rasha Malik. Menurutku, nama itu keren. Dan mungkin, satu-satunya hal keren dalam hidupku hanyalah sebuah nama. Setiap hari, aku selalu berada di antara kerumunan mereka—orang keren versiku—yang sibuk berjalan hilir mudik untuk bekerja, sekolah atau hanya sekedar jalan-jalan. Di tepi jalan, di antara gedung pertokoan, aku mengawasi mereka dengan menengadahkan tangan demi sesuap nasi. Terkadang, rela diusir tanpa henti.

Sejujurnya, hati kecilku berontak. Aku marah, sedih, iri, bahkan malu melihat anak-anak sebayaku yang memakai seragam putih merah. Apalagi melihat tangan-tangan mereka saling bergandengan, dihiasi wajah gembira dan berjalan beriringan tanpa beban.

Kapan aku bisa menjadi bagian dari mereka? Aku juga ingin bisa merasakan bangku sekolah layaknya anak seusiaku. Tanpa harus memikirkan apakah nanti, besok, atau lusa, aku masih bisa makan. Bebas tersenyum, tertawa dan bahagia. Namun, hanya hembusan nafas yang bisa kulakukan tanpa beban dan berpasrah dengan keadaan.

Duduk di tepi jalan tanpa ada atap yang melindungi dari teriknya matahari. Aku dan ibuku ditemani sosok kecil yang baru belajar mengucap kata, meminta-minta belas kasihan orang. Dalam sehari, terkadang kami bisa berganti-ganti tempat sebanyak enam kali. Entah itu di pabrik, pasar, perempatan lampu merah, bahkan terkadang di sekitar terminal bus atau angkutan umum. Tak jarang kakiku terasa sangat sakit dan pegal.

Penghasilan kami dalam sehari sebenarnya hanya cukup untuk sekedar makan. Namun, sayangnya kami harus memberikan sebagian penghasilan kami kepada preman di tempat kami tinggal. Tepatnya, di bawah kolong jembatan dengan kondisi yang sangat tidak layak untuk disebut rumah. Hanya terbuat dari kardus-kardus yang dibuat berbentuk kotak untuk tempat kami tidur. Kami sudah bersahabat dengan rasa dingin ketika malam atau hujan tiba.

Semakin siang, matahari semakin terik menyengatkan hawa panas ke tubuh kami. Waktu di mana kebanyakan orang lebih memilih diam di tempat teduh. Namun kami masih tetap di jalanan, meminta-minta pada setiap kendaraan yang lalu lalang.

Tak kusangka adik kecilku, Laras, tiba-tiba menangis. Meski sudah kupeluk, Laras terus-menerus merengek. Aku mendudukkan badanku dan memangku Laras. Kucoba letakkan telapak tanganku di dahinya, “Bu! Ibu, cepat kemari!” refleks kuberteriak pada ibu yang berada di seberang jalan.

Ibuku terburu-buru menghampiri, terlebih setelah mendengar suara tangisan Laras, “Ada apa, Bang?”

“Mungkin sakit, Bu, badannya panas sekali!”

Ibu mengambil alih adik dari pangkuanku, lalu memegang dahi Laras. Wajah khawatir dan lelah sangat terlihat di wajah ibu. Kami selalu bingung jika mendapati bahwa salah satu di antara kami sakit. Ibuku mungkin bisa menahannya, aku juga mungkin bisa ditenangkan ibu, tapi Si Kecil yang belum paham apa-apa hanya bisa terus menangis dengan keras.

Ibuku terus mencoba menenangkannya, namun tangisan Laras tak berhenti, malah semakin keras. Membuat beberapa pengendara dan pejalan kaki di sekitar perempatan lampu merah menoleh ke arah kami. Hanya itu. Dan kami pun tak pernah bisa berharap lebih. Kami, bagi mereka hanyalah orang-orang rendahan.

Aku yang bingung malah ikut menangis, “Diam, Bang! Ibu semakin panas dengarnya,” lirih ibu yang mungkin sudah terlalu lelah. Tuhan bolehkan aku sedikit berharap? Aku ingin bertemu orang berhati baik saat ini. Hati kecilku memohon sembari berusaha menahan tangisku yang masih terus mencoba keluar.

Sebuah mobil berwarna hitam tiba-tiba menepi dan berhenti di hadapan kami. Tampak seorang wanita muda dengan balutan gamis hijau muda dan jilbab berwarna senada keluar dari mobil. Aku memperhatikannya, ia berjalan ke arah kami. Keren, tapi apa mungkin ia juga memiliki hati yang keren? Ia berhenti di depan kami. Aku mengerjapkan mata dan hendak bergeser, mungkin ia akan pergi menuju ke salah satu warung di dekat kami. Belum sempat bergeser, wanita itu mencondongkan tubuhnya ke arah Laras, “Permisi, saya melihat dari dalam mobil sepertinya anak Ibu menangis,” Ia bertanya sembari menatap adikku dengan penuh selidik, lalu memegang dahi Laras.

“Astagfirullah! Ini putri Ibu demam tinggi. Seharusnya segera dibawa ke rumah sakit!” katanya sedikit memekik.

“Rumah sakit mana yang menerima kami, terlebih saya tidak punya uang,” ibuku menjawab pasrah.

“Ayo, biar saya antar ke rumah sakit! Ibu jangan memikirkan masalah biaya dulu, yang penting Si Adik bisa sembuh,” ujar wanita itu menawarkan bantuan. Ibu hanya menatapnya sebagai balasan. “Ibu tidak usah khawatir. Ayo, Bu,” tambah wanita itu meyakinkan sambil mengulurkan tangan.

Kulihat ibuku meneteskan air mata, “Terima kasih, terima kasih!” ucap Ibu pada wanita itu. Kami pun bergegas menuju rumah sakit. Adikku di sana langsung ditangani. Semoga ia baik-baik saja. Sungguh aku tak ingin kehilangannya. Dia selalu kujaga, walau aku selalu kasihan padanya, selama dua tahun hidupnya ia harus ikut merasakan hidup keras di jalanan.

Kini aku ditinggal sendiri di ruang tunggu. Ibuku menemani Laras dan wanita tadi pergi mengurus administrasi. Di ujung lorong sebelah kanan kulihat keributan.

“Ayah… Ayah jangan pergi!” teriakan dan tangisan itu yang kudengar. Seorang pria sedang dibawa para perawat dengan tergesa-gesa. Darah memenuhi kepalanya. Hal itu mengingatkanku pada peristiwa tiga tahun lalu, ketika bapak bersimbah darah dan kemudian dipanggil oleh-Nya. Meninggalkan kami dengan tumpukan penderitaan. Hutang-hutang bapak yang menyebar di sana-sini, membuat kami terusir dari rumah kami yang dulu. Semua harta yang tak seberapa ludes tak bersisa, hanya untuk membayar semua hutang-hutangnya. Aku yang kala itu masih berusia enam tahun setengah pun harus rela kehilangan masa depanku. Tak sempat merasakan apa yang dinamakan sekolah.

Ibu pun harus bertahan sekuat tenaga, terlebih setelah tahu bahwa ia tengah mengandung Laras. Kenyataan itu harus kami terima dan hadapi. Hidup dari meminta-minta, menjadi seorang gelandangan di pinggir jalan. Aku tak pernah menyalahkan ibu yang mengambil jalan ini. Aku tahu seberapa keras ibuku mencoba bekerja, namun akhirnya selalu kembali ke titik ini.

“Hey, kenapa bengong?” suara wanita tadi menyadarkanku dari lamunan, “Namamu siapa, Nak?”

“Rasha, Bu?” jawabku sopan.

“Namanya bagus,” ucapnya, “Sekolah di mana?” tambah wanita itu. Aku hanya menggeleng sebagai jawabannya. Lalu aku melirik wajah wanita itu, “Sepertinya, tak mungkin juga untuk bisa sekolah seperti yang lain.” lirihku.

“Kenapa berbicara seperti itu, Nak?” Tangannya mengusap bahuku dan tersenyum, “Dengar, kamu masih muda. Masa depanmu masih sangat panjang. Masih ada waktu mengubah hidupmu agar cerah di masa depan!”

“Aku hanyalah seorang anak pengemis. Ibuku tak punya uang untuk membiayaiku sekolah. Jadi, apalagi yang harus diharapkan? Hal apa yang bisa membuatku bermasa depan cerah?” ujarku.

“Apa hanya karena keadaan keluargamu yang seperti ini. Lantas kamu akan pasrah dan terus berputus asa?” tanyanya.

“Apa mungkin bisa seorang anak sepertiku menggapai mimpi untuk bersekolah?” tanyaku kembali padanya.

“Tidak ada yang tidak mungkin di dunia ini, Nak. Semuanya bisa terjadi. Kamu ingin sekolah? Bisa. Ingin menggapai mimpi dan cita-citamu? Itupun bisa!” ucapan disertai senyum tulusnya membuatku terus memperhatikan semua kata yang keluar dari mulutnya, “Selama kita terus berusaha dan selalu bersungguh-sungguh untuk mewujudkan mimpi kita, semua itu akan mungkin terjadi!” ujarnya menasihati.

Lalu keheningan menyelimuti kami berdua. Butuh beberapa saat untuk mencerna ucapannya. “Kamu ingin sekolah?” tanyanya tiba-tiba

“Tentu saja. Siapa yang tidak ingin sekolah? Aku bahkan sangat menginginkannya! Aku ingin belajar banyak hal, memiliki teman baru, juga bertemu guru. Ingin merasakan semua hal yang dirasakan anak-anak seusiaku yang bersekolah!” jawabku antusias.

Wanita itu tersenyum menatapku, “Ibu suka semangatmu, kalau gitu, kamu mau ikut belajar di tempat ibu?”

Mendengar ajakan wanita itu, entah kenapa aku merasa sedikit senang, “Tapi Ibu, maaf, bolehkah aku tahu Ibu ini siapa?” tanyaku yang memang penasaran dari awal kita berjumpa.

“Oh, ya, tentu boleh, Nak. Kamu boleh memanggil saya, Ibu Asri. Saya adalah salah satu pekerja di suatu organisasi sosial. Organisasi sosial ini gunanya membantu orang-orang yang kurang mampu dan fakir miskin. Terkadang, kami melakukan survey ke sudut-sudut kota untuk mencari dan merekrut orang-orang sepertimu, agar bisa diberi sebuah kehidupan yang layak.” jelasnya panjang lebar.

“Ternyata hati ibu juga keren,” lirihku. Ibu Asri menatapku dengan pandangan bertanya. “Ah tidak, Bu, maksud saya pekerjaan Ibu sungguh mulia,” ucapku sambil tersenyum. Bisa-bisanya aku keceplosan mengatakan apa yang ada di pikiranku.

“Tetapi, siapa yang masih mau membiayai semuanya? Apakah masih ada orang-orang berhati baik seperti itu, Bu?”

“Tentu saja ada, Nak. Masih ada segelintir orang yang tergerak hatinya untuk membantu mereka yang membutuhkan pertolongan. Sampat saat ini, kami pun tak pernah kekurangan donasi. Sebuah organisasi amal insya Allah tidak akan pernah berhenti untuk bergerak.”

“Tapi, kenapa di antara banyaknya orang-orang seperti saya, Ibu menawari saya?”

“Apakah harus ada alasan lagi?” ucapnya sambil tersenyum, lalu pandangannya lurus melihat ke arah jalan di koridor “Saya ada satu cerita, kamu mau mendengarnya?”

Aku hanya mengangguk sebagai jawaban, “Akhir-akhir ini saya sering pulang malam, beberapa kali saya melihat seorang anak laki-laki, seusia kamu. Tanpa memakai alas kaki, ditemani dinginnya hawa malam. Anak itu berlari, tergesa-gesa, sembari menjinjing kantong kresek hitam. Terakhir kali, saya mencoba menepikan mobil saya, mengikuti anak itu, terlebih karena penasaran. Langkah anak laki-laki itu kemudian berhenti, tepat di sebuah gang sepi yang bertembok tinggi. Saya lihat, dia mengeluarkan sesuatu dari kantong kresek yang ia bawa. Kamu tahu apa itu, Rasha?” tanyanya sembari memberikan tas jinjing hitam yang entah kapan ada di tangan Bu Asri.

“Itu.. Itu alat lukisku,” ucapku tak percaya saat melihat isi dari tas jinjing tersebut, “Mengapa mereka ada di tangan, Ibu?”

“Benar. Ternyata memang benar, kamu sosok anak laki-laki itu.”

“Rasha, apakah kamu yang selalu melukis di setiap gang yang bertembok tinggi, itu?” tanyanya kembali sembari tersenyum ke arahku. Aku yang mendengarkan ucapannya, sedari tadi menunduk. Tak tahu harus menjawab apa.

“Rasha, saya minta maaf membuatmu lari ketakutan malam itu. Saya penasaran, sehingga tak merasa puas bila sekedar menyaksikanmu diam-diam. Selepas kamu pergi. Saya melihat hasil karyamu. Sungguh indah. Kamu tahu, malam-malam berikutnya, beberapa kali saya sengaja datang ke daerah sekitar gang itu. Tapi saya tak pernah melihatmu lagi. Kenapa kamu tak pernah datang lagi? Dan kenapa sebelumnya kamu selalu melakukan itu ketika malam hari?”

“Takut..” ucapku lirih.

“Takut? Mengapa?”

“Aku takut. Takut, jika mereka mengusirku kembali. Waktu itu, aku kira Ibu juga akan memarahiku. Sebab, biasanya mereka memarahiku. Mengusirku tanpa perasaan.”

Dengan mata berkaca-kaca, Bu Asri memelukku, “Maafkan saya, Rasha. Kamu pasti tidak datang lagi karena takut dimarahi setelah bertemu saya,”

Aku melepas pelukannya, “Enggak, Bu, saya memang takut, tapi biasanya saya akan datang lagi meski pernah ketahuan, karena aku suka melukis. Aku… aku tidak datang lagi karena alat lukisku yang ketinggalan malam itu tak bisa aku temukan saat kucari,” ucapku lirih dan menunduk.

“Kamu tahu? Semenjak di mobil, saya memperhatikan kamu. Dan saya sangat yakin anak itu sangat mirip kamu. Makanya, setelah mengurus administrasi saya mengambil tas jinjing ini, yang memang saya simpan di bagasi.” ucapnya menjelaskan teka-teki di kepalaku tentang dari mana datangnya tas jinjing itu.

“Rasha, tak hanya karena semangatmu untuk bersekolah, tetapi karena hati dan juga potensimu yang luar biasa, sungguh membuat saya kagum. Makanya, saya merasa kamu layak untuk mendapatkan hal yang lebih baik, layak untuk bersekolah dan mendapatkan kebahagiaan.”

Aku masih tak menyangka. Ternyata Ibu Asri adalah wanita yang membuat aku lari pontang-panting malam itu. Wanita yang membuatku beberapa waktu tidak punya semangat, sebab membuatku kehilangan barang kesayangan yang kudapat dengan susah payah. Dan ternyata wanita ini juga yang sepertinya akan bisa membuatku mempunyai senyum yang lebih cerah.

Tak lama dari itu, tampak ibu yang keluar dari ruangan berjalan ke arah kami. Ibu tersenyum, “Alhamdulillah, Laras sudah ditangani. Dia sedang tidur sekarang. Hal ini tak luput dari pertolongan Ibu. Saya sangat berterimakasih kepada Ibu karena telah menolong saya. Saya sungguh tidak tahu apa yang akan terjadi setelahnya, bila tak ada Ibu. Kami sungguh tidak bisa membalas semua kebaikan Ibu.” ucap ibuku sambil menyeka air matanya.

“Tak apa, Bu. Sudah tugasnya manusia untuk saling membantu sesama. Oh ya, satu hal lagi. Supaya Laras bisa sembuh total, Laras bisa dirawat di sini beberapa hari. Dan supaya ibu bisa fokus menjaga Laras, saya izin membawa Rasha untuk tinggal bersama saya. Bagaimana, Bu?” Aku sungguh tak percaya dengan ucapan Ibu Asri, sungguh dia sangat baik hati.

“Maksud Ibu?” tanya ibuku keheranan.

Bu Asri memberikan sebuah kartu nama pada ibuku, “Jika Ibu mengizinkan, Rasha akan saya rawat. Dan nanti setelah adiknya Rasha sembuh, saya jemput Laras dan Ibu.”

“Saya juga? Saya tidak mau membebani Ibu Asri,” ucap ibu dengan masih memperhatikan kartu nama itu.

“Iya, nanti Ibu bisa saya carikan pekerjaan yang lebih layak. Jadi Ibu tidak perlu sungkan,”

Air mata ibu terus mengalir dari kedua matanya, “Sekali lagi, saya hanya bisa mengucapkan banyak-banyak terima kasih. Tanpa Ibu, saya tidak tahu bagaimana nasib saya dan anak-anak saya kelak.” jawab ibuku sambil tersedu.

“Berterimakasihlah kepada Allah Swt., Bu. Tanpa-Nya kita tidak mungkin bisa dipertemukan seperti ini. Saya ingin, ke depannya Rasha bisa menggapai cita-citanya. Biarkan, organisasi kami yang akan membiayai sekolahnya.” ucap Bu Asri, lalu melirik padaku, “Tinggal kamu ya, Nak. Harus bersungguh-sungguh dalam belajarnya! Semangat!” ujarnya dengan senyum bermaksud menyemangatiku.

“Terima kasih banyak, Ibu,” hanya beberapa kata itulah yang bisa keluar dari mulutku detik ini, bersamaan dengan keluarnya air mataku. Akhirnya, mimpi yang selama ini hanya sebatas harapan kosong bisa perlahan kugapai. Doaku selama ini terkabul. Terima kasih Ya Allah, engkau telah membiarkan aku bertemu salah satu hambamu yang berhati malaikat ini. Semoga hari-hariku berubah semakin indah. “Selamat datang mimpi! Aku akan selalu berjalan menujumu. Sampai bertemu, nanti!” ucapku dalam hati dengan senyum yang merekah.

Cerpen Oleh : Desifa Pauzia

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *