Pendidikan Milik Siapa?

Oleh :
Wildan Kurnia, S.Pd
(Guru Seni Budaya SMAN 1 Parungkuda Kabupaten Sukabumi)


Pendidikan, kata yang sering kita dengar dan temui sebuah nilai penting untuk menunjang kehidupan katanya. Tapi apa kita tahu apa itu pendidikan? Pendidikan menurut Ki Hajar Dewantara merupakan proses pembudayaan yakni suatu usaha memberikan nilai-nilai luhur kepada generasi baru dalam masyarakat yang tidak hanya bersifat pemeliharaan tetapi juga dengan maksud memajukan serta memperkembangkan kebudayaan menuju ke arah keluhuran hidup kemanusiaan.  

Sungguh nilai yang amat mulia bila membaca pemikiran beliau tentang pendidikan, dan begitu banyak pengertian pendidikan menurut para ahli dan akademisi. Tapi bagaimana pendapat masyarakat terhadap pendidikan, dari temuan saya sangat jarang sekali pendidikan dipahami sebagaimana para ahli merumuskan pemikirannya. Dan banyak sekali tulisan serta paparan mengenai pendidikan selalu bertautan dengan sekolah, lalu dimanakah pendidikan itu bernaung.

Pertanyaan – pertanyaan itu membuat saya gelisah karena acap kali membaca artikel, berita televisi, talk show, selalu yang terlontar adalah pendidikan menurut pemikiran akademisi lalu dimana peran serta masyarakat. Pernyataan ini bukan kritik atas gagasan para akademisi tapi mencoba memahami jarak yang terjadi antara Pendidikan dan masyarakat. Ini penting untuk dipahami sebab pendidikan adalah kehidupan, seperti yang dikemukakan oleh John Dewey “Education is not preparation for life ; Education is life itself.”

Jadi bagaimana kita bisa memberikan pemahaman pada masyarakat bahwa pendidikan ada tanpa mengenal batas waktu. Dia hadir setiap saat untuk memahami peristiwa yang hadir dalam keseharian. Bagaimana dia menjadi pendidik bagi orang lain disekitarnya sekaligus menjadi peserta didik dari lingkungannya. Maka bila pendidikan sudah merasuk pada elemen ini saya berfikir setiap orang akan menghargai atas apa yang dimilikinya dan mampu untuk membuat jalan terbaik bagi dirinya.

Artinya bagaimana juga para akademisi mampu memasuki ruang ini tidak berkutat pada persoalan sarana , prasarana, kurikulum sekolah sebagai target mereka dalam menyumbangkan gagasan. Tapi bagaimana membuat jarak yang tipis antara pendidikan dan masyarakatnya. Supaya masyarakat menjadi pelaku aktif tidak sekedar memandang pendidikan sebagai sekolah tempat menitipkan anaknya untuk mendapat penghidupan yang layak.  

Pelaksanaan pendidikan menurut Ki Hajar Dewantara dapat berlangsung dalam berbagai tempat yang oleh beliau diberi nama Tri Sentra Pendidikan, yaitu:

  1. Alam keluarga
  2. Alam perguruan
  3. Alam pergerakan pemuda
  4. Bidang Pengajaran

Dari ruang yang di kemukakan Ki Hajar Dewantara pendidikan hadir di ruang intim yaitu keluarga. Sehingga nilai serta pemaknaan akan mengalir begitu lembut bila dipahami yang mampu menjadi benteng pertama dalam menyikapi pengaruh luar yang kadang begitu deras menggempur moralitas kita.

Ketika keluarga menjadi benteng pertama akan begitu menyenangkan jika dilengkapi sekolah sebagai ruang lain dalam bersosial serta menyelami ladang pengetahuan. Sebab sekolah adalah miniature masyarakat yang diisi oleh beragam karakter satu generasi ,yang mana dalam masyarkat yang lebih besar keberagaman menjadi semacam tantangan yang harus dihadapi dalam kehidupan.  

Lalu kemudian bagaimana kita belajar berorganisasi, menemukan gagasan serta berusaha mewujudkannya dengan saling berkerja bergotong royong. Dan pada akhirnya kita menjadi seperti orang tua kita yang sudah menjadi benteng kita pada awal mula atas nama keluarga ketika kita sudah beranjak pada ruang yang berbeda. Pendidikan menjadi siklus disetiap ruangnya.

Maka disanalah Pendidikan akan mampu menjadi jembatan bagi setiap elemen kehidupan, disini kita perlu memahami pendidikan sebagai milik semua, orang sekolah boleh mahal tapi pendidikan tidak. Ia hadir dimana-mana. Dan disinilah para ahli serta akademisi harus berdiri sebagai masyarakat yang mampu menampung gagasan setiap elemen dan merumuskan kembali Pendidikan pada masyarakatnya tidak hanya menjadi ruang kecil yang terbatas bangku serta pengetahuan. 

Sebab pendidikan hadir sebagai ruang dialog yang  terbuka yang berkembang terus seiring zamannya. Maka pendidikan harus terus disikapi dan dibaca kembali agar menjadi dinamis tidak kaku dan diam seolah menjadi kebenaran mutlak. Tapi harus dipahami sebagai media yang mampu menjadi penyeimbang diantara pesatnya perkembangan pengetahuan dan menurunnya  moralitas personal. Maka ia harus terus bergerak dan menjadi jembatan dalam arus ini, dan kita sebagai bagian dari masyarakat harus menjadi roda penggerak bagi hidupnya pendidikan sebab diam berarti mati.

Tulisan ini hadir menjadi semacam refleksi bagi diri saya tapi alangkah lebih indah bila refleksi ini juga mampu menggugah orang lain. Apalah artinya refleksi dalam tulisan ini bila tidak menjadikan pembelajaran bagi orang lain seperti pepatah tong kosong nyaring bunyinya. Maka isilah dengan dengan sesuatu yang bermakna supaya suaranya lebih merdu.

Desember 2017

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *