Meneguhkan Makna Literasi dengan Spirit Al Qur’an

Oleh :
Uwen Baenuri, M.Pd.
(Guru PAI SMAN 1 Parungkuda
Kabupaten Sukabumi)

Dewasa ini pemerintah menggagas pentingnya budaya literasi, melalui Gerakan Literasi Sekolah yang dikembangkan berdasarkan Permendikbud Nomor 21 Tahun 2015 tentang Penumbuhan Budi Pekerti.

Literasi pada dasarnya merupakan keterampilan seseorang dalam mengolah dan memahami informasi pada saat melakukan proses membaca dan menulis. Terdapat upaya pemerintah dalam menggalakan budaya literasi, diantaranya Gerakan Literasi Nasional (GLN), Gerakan Literasi Sekolah (GLS) hal tersebut harus dimaknai sebagai perubahan yang positif terkait cepatnya transformasi informasi baik melalui media cetak maupun media elektronik.

Dalam perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi seperti saat ini terkadang definisi literasi menjadi sebuah makna yang dapat berevolusi sesuai dengan perkembangan zaman dewasa ini. Sebagai warga negara yang baik, budaya literasi sebaiknya harus terus digalakkan sebagai sebuah kecakapan hidup abad ke-21 melalui pendidikan yang terintegrasi, mulai dari keluarga, sekolah, sampai dengan masyarakat.

Pada dasarnya terdapat enam literasi dasar yang disepakati oleh World Economic Forum pada tahun 2015, enam literasi tersebut antara lain; literasi baca tulis, literasi numerasi, literasi sains, literasi digital, literasi finansial, dan literasi budaya dan kewargaan. Dengan demikian betapa cepatnya perubahan yang signifikan dalam memaknai literasi tersebut sehingga hal tersebut harus disambut baik oleh semua pihak.

Oleh sebab itu ketersediaan bahan bacaan di tengah-tengah keluarga dan di lingkungan sekolah dalam hal ini perpustakaan sekolah harus terus ditingkatkan sehingga akan memberikan pengaruh positif terhadap perkembangan budaya membaca di kalangan milenial maupun orang tua, mengingat rasa ingin tahu yang tinggi didukung oleh ketersediaan bahan bacaan yang memadai akan menghasilkan calon-calon literat yang handal yang dapat mengisi ruang-ruang yang dibutuhkan baik menjadi penulis, pengarang buku, pembuat cerpen dan lain sebagainya.

Bahkan mendikbud menyatakan bahwa, bangsa yang maju tidak dibangun hanya dengan mengandalkan kekayaan alam yang melimpah dan jumlah penduduk yang banyak, bangsa yang besar ditandai dengan masyarakatnya yang literat, yang memiliki peradaban tinggi, dan aktif memajukan masyarakat dunia.

Terlebih lagi Allah SWT telah mengingatkan dalam Al Qur’an semenjak 14 abad yang lalu, sebagaimana yang terdapat dalam surat Al Alaq ayat 1-5, dijelaskan bahwa ilmu mencakup kedalam tiga aspek yaitu di hati, di lisan dan di tulisan (tafsir Ibnu Kasir). Dengan demikian budaya literasi akan terus menghadirkan kebaikan dan bertambahnya ilmu pengetahuan dalam diri kita, sebagai upaya menghilangkan kebodohan.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *